Memang,
kondisi ini menimbulkan resiko: terjadinya disrupsi teknologi. Perilaku interaksi
dan semua kebutuhan sulit dilepas dari ketergantungan pada kemajuan teknologi
informasi. Orang cenderung bergantung pada internet dan berubah menjadi
masyarakat digital. Maka, dalam konteks ini, guru Bimbingan dan Konseling (BK)
juga perlu segera mentransformasikan diri, baik secara teknis maupun
sosio-kultural.
Menurut
Kemenristekdikti (2018) karakteristik guru BK yang mampu mentransformasikan
diri di era disrupsi sebagai berikut: (a) meningkatkan minat baca dan menambah
koleksi buku; (b) mampu menjadi fasilitator, motivator dan inspirator; (c)
mengunggah karya-karya tulisnya yang berkontribusi bagi upaya peningkatan
kualitas layanan bimbingan dan konseling; (d) menerapkan pola hybrid learning
(kombinasi tatap muka dan online) dan multitasking secara kreatif dan inovatif
untuk meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling; dan (e) menerapkan
pendekatan konstruktivistik berbasis ICT.
Menurut pendapat
Alaydrus (2017) karakteristik guru BK di era disrupsi sebagai berikut:
a. Life-long learner.
Pembelajar seumur hidup. Guru BK perlu
meng-upgrade terus pengetahuannya dengan banyak membaca serta berdiskusi dengan
pengajar lain atau bertanya pada para ahli. Tak pernah ada kata puas dengan
pengetahuan yang ada, karena zaman terus berubah dan guru BK wajib up to date
agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan mereka.
b. Kreatif dan inovatif.
Siswa yang kreatif lahir dari
guru BK yang kreatif dan inovatif. Guru diharap mampu memanfaatkan variasi
sumber belajar untuk menyusun kegiatan baik di dalam kelas maupun di luar
kelas.
c. Mengoptimalkan
teknologi.
Dengan cara blended learning,
gabungan antara metode tatap muka tradisional dan penggunaan digital dan online
media. d. Reflektif. Guru BK yang
reflektif adalah guru BK yang mampu menggunakan penilaian proses dan hasil
layanan untuk meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konseling.
e. Kolaboratif.
Guru BK dapat berkolaborasi dengan
siswa dalam layanan bimbingan dan konseling. Selalu ada mutual respect dan
kehangatan sehingga layanan bimbingan dan konseling berlangsung lebih
menyenangkan. Selain itu guru BK juga membangun kolaborasi dengan orang tua
melalui komunikasi aktif dalam memantau perkembangan anak.
f. Menerapkan student
centered.
Dalam hal ini, siswa memiliki
peran aktif dalam pembelajaran sehingga guru hanya bertindak sebagai
fasilitator.
g. Menerapkan pendekatan
diferensiasi.
Dalam menerapkan pendekatan
ini, guru BK mendesain layanan bimbingan dan konseling berdasarkan gaya belajar
siswa, pengelompokkan siswa berdasarkan minat, kemampuan dan permasalahannya.
Dalam melakukan penilaian guru BK menerapkan assessment
alternative.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar