Minggu, 10 Juni 2018

PROGRAM BIMBINGAN KARIR DI SEKOLAH


Sesuai dengan tujuan dari pelaksanaan Bimbingan Karier di sekolah, yaitu secara umum adalah bertujuan untuk membantu para peserta didik agar memperoleh pemahaman diri dan pengarahan diri dalam proses mempersiapkan diri untuk mencapai tujuan tersebut perlulah kiranya disusun suatu program Bimbingan Karier yang di rencanakan dengan matang.

1.      Prinsip Penyusunan Bimbingan Karier

Penyusunan suatu program Bimbingan Karier di sekolah hedaknya didasarkan pada beberapa prinsip sebagai berikut:

1.      Program Bimbingan Karier hendaknya direncanakan sebagai suatu proses yang berkesinambungan dan terintegrasi
Dengan demikian penyusunan program hendaknya tidak direncanakan dan dilakukan hanya pada saat-saat tertentu saja atau suatu peristiwa tertentu saja, tetapi diintegrasikan dengan perkembangan anak didik melalui semua pengalaman belajar yang didapatnya mulai dari Sekolah Dasar sampai menamatkan pendidikannya pada jenjang pendidikan tertentu. Disamping itu hendaknya perencanaan program diintegrasikan dengan kegiatan pendidikan secara keseluruhan di sekolah-sekolah.
2.      Program Bimbingan karier hendaknya disusun dengan melibatkan diri siswa dalam proses perkembangannya.
Dengan melibatkan diri peserta didik dalam program Bimbingan Karier itu berarti bahwa dalam program Bimbingan Karier, bakat, minat dan potensi-potensi yang dimiliki para siswa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengeksplorasi gambaran yang dimiliki baik mengenai dunia kerja maupun tentang dirinya dan seterusnya para peserta didik ikut melibatkan dirinya dalam rangka proses pematangan dan pemantapan konsep diri.
3.      Program Bimbingan Karier hendakanya menyajikan berbagai macam pilihan tentang kesempatan kerja yang ada dalam lingkungannya serta dalam dunia kerja.
Untuk itu pemahaman tentang jabatan atau karier akan diperoleh apabila ia mendapatkan informasi jabatan selengkap mungkin. Informasi tentang pekerjaan, jabatan atau karier serta kesempatan kerja sangat bermanfaat bagi para peserta didik terutama untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang lapangan pekerjaan, jabatan atau karier.
4.      Program bimbingan hendaknya mempertimbangkan aspek pribadi siswa secara totalitas
Proses pengembangan dan penerapan konsepsi diri perlu diperhatikan dengan cara mempertimbangkan aspek-aspek pribadi peserta didik secara keseluruhan. Dengan demikian para peserta didik akan memiliki kemampuan untuk mengenal berbagai potensi, bakat, minat, kebutuhan dirinya serta nilai-nilai hidup yang dicita-citakannya. Pemahaman diri yang seutuhnya itu bermanfaat bagi diri peserta didik untuk menetapkan sendiri tujuan hidup yang sesuai dengan aspek-aspek pribadinya. Jadi dalam penyusunan program Bimbingan karier hendaknya memasukkan unsur-unsur pengenalan pribadi masing-masing peserta didik
5.      Program Bimbingan Karier hendaknya diwujudkan untuk melayani semua siswa
Maka dari itu integrasi proses Bimbingan Karier haruslah diadakan melalui berbagai bentuk kegiatan, termasuk didalamnya memberikan kesempatan kepada diri peserta didik untuk mengembangkan konsepsi diri, dan konsepsi pekerjaan, jabatan atau karier di masa depan, dilaksanakan dengan mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlulah disusun program Bimbingan karier agar usaha layanan Bimbingan Karier di sekolah betul-betul berdaya guna dan berhasil guna serta mengena pada sasarannya.

2.      Tujuan Program Bimbingan Karier

Dalam mengembangkan suatu program Bimbingan karier di sekolah perlu diperhatikan tujuan dan proses untuk mencapai tujuan itu. Secara umum tujuan dari Bimingan karier di sekolah adalah untuk membantu para siswa memiliki ketrampilan dalam mengabil keputusan mengenai kariernya dimasa depan. Untuk mencapai hal ini para peserta didik perlu memahami dirinya sendiri dan lingkungannya dan dapat mengambil keputusan yang bermakna bagi dirinya sendiri. Untuk mendapatkan wawasan yang cukup memadai tentang hal ini terutama teori tentang arah pilihan jabatan dan perkembangan jabatan atau karier bisa ditelaah teori-teori pemilihan jabatan pada bab 5.
Secara khusus tujuan program Bimbingan karier di sekolah dapat diperinci sebagai berikut :
  1. Peserta didik dapat memahami dan menilai dirinya terutama mengenai potensi-potensi dasar seperti: minat, sikap, kecakapan dan cita-citanya.
  2. Peserta didik akan sadar dan akan memahami nilai-nilai yang ada pada dirinya dan yang ada dalam masyarakat.
  3. Peserta didik akan mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dan minatnya, memiliki sikap yang positif dan sehat terhadap dunia kerja, memahami hubungan dari usahanya sekarang dengan masa depannya, dan megetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan untuk suatu bidang pekerjaan tertentu.
  4. Peserta didik dapat mengemukakan hambatan-hambatan yang ada pada diri dan lingkungannya dan dapat megatasi hambatan-hambatan tersebut.
  5. Peserta didik sadar akan kebutuhan masyarakat dan negaranya yang berkembang
  6. Peserta didik dapat merencanakan masa depannya sehingga dia dapat menemukan karier dan kehidupannya yang serasi.

3.     Penyusunan Program Bimbingan Karier

Untuk menyusun program Bimbingan karier di sekolah perlulah kiranya diperhatikan beberapa pertimbangan atau referensi, diantaranya:

1.      Program Bimbingan karier disekolah hendaknya disusun secara terintegrasi dan dilaksanakan secara terpadu dalam keseluruhan program pendidikan di sekolah.
Hal ini didasarkan selaras dengan pokok pikiran dan keyakinan bahwa pendidikan formal atau dalam sekolah bertujuan memberikan dasar-dasar serta persiapan untuk kehidupan yang lebih bermakna bagi anak apabila dia kelak menjadi dewasa, maka dari itu sekolah berkewajiban memberikan program-program pendidikan yang memungkinkan para siswa untuk mengenal, memilih, memutuskan dan merencanakan lapangan pekerjaan, jabatan atau karier yang sesuai dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Jadi dengan demikian program Bimbingan Karier disekolah hendaknya disusun sejajar, terpadu serta terintegrasi dengan program-program pendidikan lainnya di sekolah.
2.      Program Bimbingan Karier di sekolah hendaknya disusun sebagai suatu proses yang berkelanjutan
Hal ini didasarkan selaras dengan pokok pikiran dan keyakinan bahwa Bimbingan Karier merupakan salah satu aspek atau komponen dari keseluruhan sistem pendidikan. Oleh karena pendidikan adalah merupakan sutau proses yang berlangsung seumur hidup, maka Bimbingan Karier pun haruslah ditinjau sebagai suatu proses yang berawal pada suatu saat, berlanjut dan berlangsung terus sepanjang hayat. Maka dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa sesungguhnya Bimbingan Karier tidak hanya berlangsung selama siswa duduk di bangku sekolah melainkan berkelanjutan dalam pekerjaan, jabatan atau karier
3.      Pogram Bimbingan karier disekolah hendaknya disusun secara terencana
Hal ini didasarkan selaras dengan pokok pikiran dan keyakinan bahwa perencanaan dan pelaksanaan Bimbingan Karier bersangkut paut dengan nasib dan masa depan manusia, maka tidaklah dilaksanakan secara trial and error, dan serampangan, dan harus dilaksanakan dengan program yang terperinci dan sistematis serta relevan dengan kebutuhan-kebutuhan, atau berfungsi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk dapat merencanakan dan melaksanakan Bimbingan Karier secara terperinci, sistematis, relevan dan terencana, maka haruslah digarap oleh tenaga-tenaga kependidikan yang ahli dalam bidangnya, dan professional, serta berkompeten dalam bidangnya sehingga dapatlah dikembangkan Program Bimbingan Karier yang betul-betul dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, objektif dan dilaksanakan secara efektif, praktis, efisien serta bermakna.

Berdasarkan referensi di atas, maka dapatlah disimpulkan secara terpadu, menyeluruh, terencana dan berkelanjutan.

4.     Persiapan Penyusunan Program Bimbingan Karier

Persiapan penyusunan program Bimbingan Karier di sekolah adalah merupakan seperangkat kegiatan yang dilakukan melalui berbagai bentuk survey untuk menginventarisasikan tujuan, kebutuhan, kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah untuk melaksanakan program Bimbingan Karier.
Tahap persiapan penyusunan program ini mempunyai arti yang penting untuk menarik perhatian, minat dalam kegiatan Bimbingan Karier disekolah, serta menentukan tolak ukur program Bimbingan Karier di sekolah. Juga memelihara suasana psikologis yang menguntungkan, karena semua pihak terlibat didalamnya ikut secara aktif sejak awal kegiatan dalam persiapan penyusunan program. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa tahap persiapan adalah merupakan seperangkat kegiatan mengumpulkan berbagai hal yang dibutuhkan untuk penyusunan program dan penyediaan kelengkapannya. Dalam tahap persiapan ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut (lihat bagan).

a.      Studi Kelayakan
Studi kelayakan adalah merupakan seperangkat kegiatan dalam mengumpulkan berbagai informasi tentang hal-hal yang dibutuhkan untuk penyusunan program Bimbingan Karier. Dengan adanya studi kelayakan ini, kesimpulan dan saran-saran yang disajikan pada akhir studi dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk menentukan program yang perlu dikembangkan di sekolah. Dalam studi kelayakan yang bisa dipergunakan sebagai dasar pertimbangan ialah beberapa aspek, diantaranya: saranan dan prasarana, yang memungkinkan bisa untuk digali, pengendalian pelaksanaan program, pembiayaan kegiatan secara keseluruhan yang menunjang pelaksanaan program, dan berbagai aspek lainnya yang bisa digali. Dari hasil pengkajian aspek-aspek tersebut, beberapa kemungkinan akan diambil sebagai kesimpulan bahwa:
1)     Suatu kegiatan sangat layak untuk dilaksanakan
2)     Suatu kegitan layak untuk dilaksanakan
3)     Kegiatan kurang layak untuk dilaksanakan
4)     Kegiatan tidak layak untuk dilaksanakan

Sumber : Tyas Martika, S.Pd,.M.Pd. 2009. Bimbingan Karier Di Sekolah. Diktat Kuliah Prodi BK. IKIP PGRI Madiun


Minggu, 04 Maret 2018

SEJARAH BHINNEKA TUNGGAL IKA

Bhinneka Tunggal Ika bisa ditemukan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada abad XIV pada era Kerajaan Majapahit. Mpu Tantular merupakan seorang penganut Buddha Tantrayana, namun merasakan hidup aman dan tentram dalam kerajaan Majapahit yang lebih bernafaskan agama Hindu (Ma’arif A. Syafii, 2011). 

Bhinneka Tunggal Ika mulai menjadi bahan diskusi terbatas antara Muhammad Yamin, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Bung Karno di sela-sela sidang BPUPKI sekitar 2,5 bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia(Kusuma R.M. A.B, 2004). Bahkan Bung Hatta sendiri mengemukakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan ciptaan Bung Karno pasca Indonesia merdeka. Setelah beberapa tahun kemudian ketika mendesain Lambang Negara Republik Indonesia dalam bentuk burung Garuda Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika disisipkan ke dalamnya.

Secara resmi lambang ini digunakan dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yg dipimpin oleh Bung Hatta pada tanggal 11 Februari 1950 berdasarkan rancangan yang diciptakan oleh Sultan Hamid ke-2 (1913-1978). Pada sidang tersebut mengemuka banyak usulan rancangan lambang negara, selanjutnya yang dipilih adalah usulan yang diciptakan Sultan Hamid ke-2 & Muhammad Yamin, dan kemudian rancangan dari Sultan Hamid yang akhirnya ditetapkan (Yasni, Z, 1979).
Karya Mpu Tantular tersebut oleh para founding fathers diberikan penafsiran baru sebab dianggap sesuai dengan kebutuhan strategis bangunan Indonesia merdeka yang terdiri atas beragam agama, kepercayaan, etnis, ideologi politik, budaya dan  bahasa. Dasar pemikiran tersebut yang menjadikan semboyan “keramat” ini terpajang melengkung dalam cengkeraman kedua cakar Burung Garuda. Burung Garuda dalam mitologi Hindu ialah kendaraanDewa Vishnu (Ma’arif A. Syafii, 2011).

Dalam proses perumusan konstitusi Indonesia, jasa Muh.Yamin harus diingat sebagai orang yang pertama kali mengusulkan kepada Bung Karno agar Bhinneka Tunggal Ika dijadikan semboyan sesanti negara. Muh. Yamin sebagai tokoh kebudayaan dan bahasa memang dikenal sudah lama bersentuhan dengan segala hal yang berkenaan dengan kebesaran Majapahit (Prabaswara, I Made, 2003). Konon, di sela-sela Sidang BPUPKI antara Mei-Juni 1945, Muh. Yamin menyebut-nyebut ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu sendirian. Namun I Gusti Bagus Sugriwa (temannya dari Buleleng) yang duduk di sampingnya sontak menyambut sambungan ungkapan itu dengan “tan hana dharma mangrwa.” Sambungan spontan ini di samping menyenangkan Yamin, sekaligus menunjukkan bahwa di Bali ungkapan Bhinneka Tunggal Ika itu masih hidup dan dipelajari orang (Prabaswara, I Made, 2003). Meksipun Kitab Sutasoma ditulis oleh seorang sastrawan Buddha, pengaruhnya cukup besar di lingkungan masyarakat intelektual Hindu Bali.

Para pendiri bangsa Indonesia yang sebagian besar beragama Islam tampaknya cukup toleran untuk menerima warisan Mpu Tantular tersebut. Sikap toleran ini merupakan watak dasar suku-suku bangsa di Indonesia yang telah mengenal beragam agama, berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi, jauh sebelum Islam datang ke Nusantara. Sekalipun dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit abad XV, pengaruh Hindu-Budha secara politik sudah sangat melemah, secara kultural pengaruh tersebut tetap lestari sampai hari ini (Ma’arif A. Syafii, 2011).

Bhinneka Tunggal Ika dalam Konteks Indonesia

Indonesia beruntuk telah memiliki falsafah bhinneka tunggal ika sejak dahulu ketika negara barat masih mulai memerhatikan tentang konsep keberagaman.
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keberagaman. Jika dilihat dari kondisi alam saja Indonesia sangat kaya akan ragam flora dan fauna, yang tersebar dari ujung timur ke ujung barat serta utara ke selatan di sekitar kurang lebih 17508 pulau. Indonesia juga didiami banyak suku(sekitar kurang lebih 1128 suku) yang menguasai bahasa daerah masing-masing(sekitar 77 bahasa daerah) dan menganut berbagai agama dan kepercayaan. Keberagaman ini adalah ciri bangsa Indonesia. Warisan kebudayaan yang berasal dari masa-masa kerajaan hindu, budha dan islam tetap lestari dan berakar di masyarakat. Atas dasar ini, para pendiri negara sepakat untuk menggunakan bhinneka tunggal ika yang berarti "berberda-beda tetapi tetap satu jua" sebagai semboyan negara.

Bangsa Indonesia sudah berabad-abad hidup dalam kebersamaan dengan keberagaman dan perbedaan. Perbedaan warna kulit, bahasa, adat istiadat, agama, dan berbagai perbedaan lainya. Perbedaan tersebut dijadikan para leluhur sebagai modal untuk membangun bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang besar. Sejarah mencatat bahwa seluruh anak bangsa yang berasal dari berbagai suku semua terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semua ikut berjuang dengan mengambil peran masing-masing.

Kesadaran terhadap tantangan dan cita-cita untuk membangun sebuah bangsa telah dipikirkan secara mendalam oleh para pendiri bangsa Indonesia. Keberagaman dan kekhasan sebagai sebuah realitas masyarakat dan lingkungan serta cita-cita untuk membangun bangsa dirumuskan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ke-bhinneka-an merupakan realitas sosial, sedangkan ke-tunggal-ika-an adalah sebuah cita-cita kebangsaan. Wahana yang digagas sebagai “jembatan emas” untuk menuju pembentukan sebuah ikatan yang merangkul keberagaman dalam sebuah bangsa adalah sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, Indonesia.

Para pendiri negara juga mencantumkan banyak sekali pasal-pasal yang mengatur tentang keberagaman. Salah satu pasal tersebut adalah  tentang pentingnya keberagaman dalam pembangunan selanjutnya diperkukuh dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagaimana tercantum dalam ketentuan Pasal 36A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan bahwa Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang mengungkapkan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman.

PERANAN ORANG TUA BAGI REMAJA

      Orang tua adalah peran yang snagat pentig bagi keluarga, terutama bagi anak-anak. Menjadi orang tua itu tidaklah mudah karena sebagai ...