Sesuai dengan tujuan dari
pelaksanaan Bimbingan Karier di sekolah, yaitu secara umum adalah bertujuan
untuk membantu para peserta didik agar memperoleh pemahaman diri dan pengarahan
diri dalam proses mempersiapkan diri untuk mencapai tujuan tersebut perlulah
kiranya disusun suatu program Bimbingan Karier yang di rencanakan dengan
matang.
1.
Prinsip
Penyusunan Bimbingan Karier
Penyusunan suatu program Bimbingan
Karier di sekolah hedaknya didasarkan pada beberapa prinsip sebagai berikut:
1.
Program
Bimbingan Karier hendaknya direncanakan sebagai suatu proses yang
berkesinambungan dan terintegrasi
Dengan demikian penyusunan program hendaknya tidak
direncanakan dan dilakukan hanya pada saat-saat tertentu saja atau suatu peristiwa
tertentu saja, tetapi diintegrasikan dengan perkembangan anak didik melalui
semua pengalaman belajar yang didapatnya mulai dari Sekolah Dasar sampai
menamatkan pendidikannya pada jenjang pendidikan tertentu. Disamping itu
hendaknya perencanaan program diintegrasikan dengan kegiatan pendidikan secara
keseluruhan di sekolah-sekolah.
2.
Program
Bimbingan karier hendaknya disusun dengan melibatkan diri siswa dalam proses
perkembangannya.
Dengan melibatkan diri peserta didik dalam program Bimbingan
Karier itu berarti bahwa dalam program Bimbingan Karier, bakat, minat dan
potensi-potensi yang dimiliki para siswa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk
mengeksplorasi gambaran yang dimiliki baik mengenai dunia kerja maupun tentang
dirinya dan seterusnya para peserta didik ikut melibatkan dirinya dalam rangka
proses pematangan dan pemantapan konsep diri.
3.
Program
Bimbingan Karier hendakanya menyajikan berbagai macam pilihan tentang
kesempatan kerja yang ada dalam lingkungannya serta dalam dunia kerja.
Untuk itu pemahaman tentang jabatan atau karier akan
diperoleh apabila ia mendapatkan informasi jabatan selengkap mungkin. Informasi
tentang pekerjaan, jabatan atau karier serta kesempatan kerja sangat bermanfaat
bagi para peserta didik terutama untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh
tentang lapangan pekerjaan, jabatan atau karier.
4.
Program
bimbingan hendaknya mempertimbangkan aspek pribadi siswa secara totalitas
Proses pengembangan dan penerapan konsepsi diri perlu
diperhatikan dengan cara mempertimbangkan aspek-aspek pribadi peserta didik
secara keseluruhan. Dengan demikian para peserta didik akan memiliki kemampuan
untuk mengenal berbagai potensi, bakat, minat, kebutuhan dirinya serta
nilai-nilai hidup yang dicita-citakannya. Pemahaman diri yang seutuhnya itu
bermanfaat bagi diri peserta didik untuk menetapkan sendiri tujuan hidup yang
sesuai dengan aspek-aspek pribadinya. Jadi dalam penyusunan program Bimbingan
karier hendaknya memasukkan unsur-unsur pengenalan pribadi masing-masing peserta
didik
5.
Program
Bimbingan Karier hendaknya diwujudkan untuk melayani semua siswa
Maka dari itu integrasi proses Bimbingan Karier haruslah
diadakan melalui berbagai bentuk kegiatan, termasuk didalamnya memberikan
kesempatan kepada diri peserta didik untuk mengembangkan konsepsi diri, dan
konsepsi pekerjaan, jabatan atau karier di masa depan, dilaksanakan dengan
mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan hal tersebut di atas
maka perlulah disusun program Bimbingan karier agar usaha layanan Bimbingan
Karier di sekolah betul-betul berdaya guna dan berhasil guna serta mengena pada
sasarannya.
2. Tujuan Program Bimbingan Karier
Dalam mengembangkan suatu program
Bimbingan karier di sekolah perlu diperhatikan tujuan dan proses untuk mencapai
tujuan itu. Secara umum tujuan dari Bimingan karier di
sekolah adalah untuk membantu para siswa memiliki ketrampilan dalam mengabil
keputusan mengenai kariernya dimasa depan. Untuk mencapai hal
ini para peserta didik perlu memahami dirinya sendiri dan lingkungannya dan
dapat mengambil keputusan yang bermakna bagi dirinya sendiri. Untuk mendapatkan
wawasan yang cukup memadai tentang hal ini terutama teori tentang arah pilihan
jabatan dan perkembangan jabatan atau karier bisa ditelaah teori-teori
pemilihan jabatan pada bab 5.
Secara khusus tujuan program
Bimbingan karier di sekolah dapat diperinci sebagai berikut :
- Peserta
didik dapat memahami dan menilai dirinya terutama mengenai potensi-potensi
dasar seperti: minat, sikap, kecakapan dan cita-citanya.
- Peserta
didik akan sadar dan akan memahami nilai-nilai yang ada pada dirinya dan
yang ada dalam masyarakat.
- Peserta
didik akan mengetahui berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan
potensi dan minatnya, memiliki sikap yang positif dan sehat terhadap dunia
kerja, memahami hubungan dari usahanya sekarang dengan masa depannya, dan
megetahui jenis-jenis pendidikan dan latihan yang diperlukan untuk suatu
bidang pekerjaan tertentu.
- Peserta
didik dapat mengemukakan hambatan-hambatan yang ada pada diri dan
lingkungannya dan dapat megatasi hambatan-hambatan tersebut.
- Peserta
didik sadar akan kebutuhan masyarakat dan negaranya yang berkembang
- Peserta
didik dapat merencanakan masa depannya sehingga dia dapat menemukan karier
dan kehidupannya yang serasi.
3. Penyusunan
Program Bimbingan Karier
Untuk menyusun program Bimbingan
karier di sekolah perlulah kiranya diperhatikan beberapa pertimbangan atau
referensi, diantaranya:
1.
Program
Bimbingan karier disekolah hendaknya disusun secara terintegrasi dan
dilaksanakan secara terpadu dalam keseluruhan program pendidikan di sekolah.
Hal ini didasarkan selaras dengan pokok pikiran dan
keyakinan bahwa pendidikan formal atau dalam sekolah bertujuan memberikan
dasar-dasar serta persiapan untuk kehidupan yang lebih bermakna bagi anak
apabila dia kelak menjadi dewasa, maka dari itu sekolah berkewajiban memberikan
program-program pendidikan yang memungkinkan para siswa untuk mengenal,
memilih, memutuskan dan merencanakan lapangan pekerjaan, jabatan atau karier
yang sesuai dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Jadi dengan demikian
program Bimbingan Karier disekolah hendaknya disusun sejajar, terpadu serta
terintegrasi dengan program-program pendidikan lainnya di sekolah.
2.
Program
Bimbingan Karier di sekolah hendaknya disusun sebagai suatu proses yang
berkelanjutan
Hal ini didasarkan selaras dengan pokok pikiran dan
keyakinan bahwa Bimbingan Karier merupakan salah satu aspek atau komponen dari
keseluruhan sistem pendidikan. Oleh karena pendidikan adalah merupakan sutau
proses yang berlangsung seumur hidup, maka Bimbingan Karier pun haruslah ditinjau
sebagai suatu proses yang berawal pada suatu saat, berlanjut dan berlangsung
terus sepanjang hayat. Maka dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa
sesungguhnya Bimbingan Karier tidak hanya berlangsung selama siswa duduk di
bangku sekolah melainkan berkelanjutan dalam pekerjaan, jabatan atau karier
3.
Pogram
Bimbingan karier disekolah hendaknya disusun secara terencana
Hal ini didasarkan selaras dengan pokok pikiran dan
keyakinan bahwa perencanaan dan pelaksanaan Bimbingan Karier bersangkut paut
dengan nasib dan masa depan manusia, maka tidaklah dilaksanakan secara trial and error, dan serampangan, dan harus
dilaksanakan dengan program yang terperinci dan sistematis serta relevan dengan
kebutuhan-kebutuhan, atau berfungsi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Untuk dapat merencanakan dan melaksanakan Bimbingan Karier secara terperinci,
sistematis, relevan dan terencana, maka haruslah digarap oleh tenaga-tenaga
kependidikan yang ahli dalam bidangnya, dan professional, serta berkompeten
dalam bidangnya sehingga dapatlah dikembangkan Program Bimbingan Karier yang
betul-betul dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, objektif dan
dilaksanakan secara efektif, praktis, efisien serta bermakna.
Berdasarkan referensi di atas, maka
dapatlah disimpulkan secara terpadu, menyeluruh, terencana dan berkelanjutan.
4. Persiapan
Penyusunan Program Bimbingan Karier
Persiapan penyusunan program
Bimbingan Karier di sekolah adalah merupakan seperangkat kegiatan yang
dilakukan melalui berbagai bentuk survey untuk menginventarisasikan tujuan,
kebutuhan, kemampuan sekolah, serta kesiapan sekolah untuk melaksanakan program
Bimbingan Karier.
Tahap persiapan penyusunan program
ini mempunyai arti yang penting untuk menarik perhatian, minat dalam kegiatan
Bimbingan Karier disekolah, serta menentukan tolak ukur program Bimbingan
Karier di sekolah. Juga memelihara suasana psikologis yang menguntungkan,
karena semua pihak terlibat didalamnya ikut secara aktif sejak awal kegiatan
dalam persiapan penyusunan program. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa
tahap persiapan adalah merupakan seperangkat kegiatan mengumpulkan berbagai hal
yang dibutuhkan untuk penyusunan program dan penyediaan kelengkapannya. Dalam
tahap persiapan ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut (lihat
bagan).
a.
Studi
Kelayakan
Studi kelayakan adalah
merupakan seperangkat kegiatan dalam mengumpulkan berbagai informasi tentang
hal-hal yang dibutuhkan untuk penyusunan program Bimbingan Karier. Dengan adanya studi kelayakan
ini, kesimpulan dan saran-saran yang disajikan pada akhir studi dipakai sebagai
dasar pertimbangan untuk menentukan program yang perlu dikembangkan di sekolah.
Dalam studi kelayakan yang bisa dipergunakan sebagai dasar pertimbangan ialah
beberapa aspek, diantaranya: saranan dan prasarana, yang memungkinkan bisa
untuk digali, pengendalian pelaksanaan program, pembiayaan kegiatan secara
keseluruhan yang menunjang pelaksanaan program, dan berbagai aspek lainnya yang
bisa digali. Dari hasil pengkajian aspek-aspek tersebut, beberapa kemungkinan
akan diambil sebagai kesimpulan bahwa:
1) Suatu
kegiatan sangat layak untuk dilaksanakan
2) Suatu
kegitan layak untuk dilaksanakan
3) Kegiatan
kurang layak untuk dilaksanakan
4) Kegiatan
tidak layak untuk dilaksanakan
Sumber : Tyas Martika, S.Pd,.M.Pd.
2009. Bimbingan Karier Di Sekolah. Diktat Kuliah Prodi BK. IKIP PGRI Madiun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar