Selasa, 09 Mei 2023

PERANAN ORANG TUA BAGI REMAJA

     Orang tua adalah peran yang snagat pentig bagi keluarga, terutama bagi anak-anak. Menjadi orang tua itu tidaklah mudah karena sebagai oranng tua kita harus memahami betul karakter, bakat, kemampuan yang dimiliki setiap anak-anak kita. kita tahu bahwa manusia adalah individu yang unik, yang memiliki berbeda-beda karakter satu dengan yang lain. Kita sebagai orang tuapu harus memahami karakter, bakat, dan kemampua setiap anak-anak kita satu persatu, karena pastinnya mereka memiliki perbedaan karakter dan dengan adanya perbedaan karakter mereka juga pasti memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

    Setiap anak memiliki kebutuhannnya masing-masing apalagi jika anak tersebut sudah memasuki usia remaja. Menurut King (2012) masa remaja adalah masa perubahan atau peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial. Masa remaja diawali dari usia 12 - 16 tahun. 

    Pada usia remaja biasanya anak menampilkan perilaku-perilaku yang ekstrim seperti membangkang, melawan, egois, keras kepala, dll. Hal ini sangatlah wajar bagi remaja karena pada usianya memang remaja sedang mencari identitas diri dan selalu mencari tahu bahkan mencoba segala hal. peran kita sebagai orang tua pada masa ini hanya sebatas mengawasi dan membimbing.

    Jika pada masa anak-anak orang tua berperan untuk mengarahkan dan mengatur anak agar berperilaku baik, pada masa remaja anak sudah sulit sekali kita atur dan arahkan karena remaja hanya memikirkan kesenangan dan kepuasan diri. Remaja yang dirumah selalu diatur bahkan diberikan punishmen yang berat dari kedua orang tuanya pasti akan mencari pelampiasan diluar rumah denga tindakan-tindakan yang akan merugikan diri sendiri yang orang lain. Remaja melakukan itu karena dia merasa tidak nyaman di rumah, merasa tidak dihargai, tidak dipedulikan sehingga dia akan mencari kepuasan diri di luar rumah. 

    Mengenali bakat anak juga merupakah hal yang sangat penting untuk mendidik anak Remaja. Anak-anak remaja sudah pasti memiliki bakat yang dia tunjukan dan kegiatan yang disukainya. Hal yang paling fatal yang sering dilakukan oleh orangtua adalah TIDAK MENDUKUNG bahkan MENGUCILKAN hobi anak-anaknya. Dengan orang tua tidak mendukung dan mengenyampingkan hobi atau bakat anaknya makan secara tidak langsung orang tua memutus semangat anaknya.

    Hobi atau kegiatan yang diseangi anak selain menyalurkan dan mengembangkan kemampuan juga menjadi sarana untuk anak membuat dirinya senang atau yang sering di sebut dengan healing. Jika orang tua melarang hobi anak berarti orang tua memutus semangat anak remaja dan menambahkan beban anak tanpa mendapat solusi untuk menghilangkan beban yang ada dalam diri anak. 

    Parahnya lagi jika orang tua memaksakan anak untuk menjalani hobinya atau hobi orang tua yang tidak tersapai di masa lalu. Anak akan menjalaninya dengan terpaksa dan beban berar.

    Menjadi orang tua tidaklah mudah harus bijak dalam membagi peran sebagai suami/isrti, sebagai ayah/ibu. Memperhatikan kebutuhan anak-anaknya di rumah dan membimbing anaknya agar tidak terjerumus dalam gelapnya pergaulan di jaman sekarang. Yang paling menyenangkn manjadi orang tua adalah melihat secara langsung tumbuh kembang anak dari 0 - dewasa. 

    Tetaplah menjadi orang tua yang bijak, tegas, dan menyenangkan bagi anak-anaknya.



VERGILIUS DAMAR LISTYADI

Senin, 05 Desember 2022

CARA MENGATASI ANAK BALITA (BAWAH LIMA TAHUN) KETIKA TANTRUM


    Seringkali kita melihat atau bahkan mengalami situasi dimana kita sebagai orang tua melihat anak orang lain atau anak kita sendiri sedang nangis dan mengamuk karna suatu hal. Biasanya hal ini terjadi ketika anak mengingiinkan dan meminta sesuatu kepada orangtuanya dan orangtuanya tidak memberikan apa yang diinginkan. Terkadang kita sebagai orangtua dilema dengan keadaan seperti iu. Jika tidak dibrikan anak akan terus menangis dan meronta sedangkan jika kita berikan kita terlihat teralu memanjakan anak. 
    Tetapi orangtua jangan takut, berikut akan saya berikan cara mengatasi anak yang tantrum. dengan begini kita bisa mengetahui apakah yang sudah kita lakukan sudah tepat atau kurang tepat. 



1. Abaikan Anak

Hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang tantrum adalah dengan mengabaikannya. Ibu juga perlu berhenti memberikannya perhatian kepadanya agar anak tidak semakin meningkat kemarahannya. Namun, tindakan mengabaikan ini sebaiknya hanya dilakukan selama anak tidak berada dalam situasi yang membahayakan dirinya. Maka dari itu, pastikan untuk mendiamkan dan meninggalkan anak sejenak dan datangi kembali beberapa waktu kemudian.

2. Mengatasi Perilaku Agresifnya

Anak yang sedang tantrum dapat melakukan beberapa hal yang agresif. Misalnya seperti memukul, membanting atau melempar barang, hingga menendang sesuatu. Jika hal ini terjadi, ibu perlu mengatasi perilaku agresifnya dengan segera. Nah, hal yang perlu ibu lakukan adalah memberitahukan anak bahwa menyakiti orang lain atau merusak barang merupakan tindakan yang tidak baik. 

Namun, pastikan ibu memberitahu anak dengan cara lembut dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti olehnya. Sebab, menggunakan tindakan atau kata-kata keras yang menyakitkan tidak akan efektif dalam mengatasi tantrum. Hal tersebut justru malah dapat menimbulkan trauma psikologis pada diri anak.

3. Biarkan Anak Marah

Terkadang, anak yang tantrum hanya perlu melampiaskan amarahnya. Maka dari itu, biarkan anak untuk marah ketika dirinya tantrum, selama tidak melakukan hal berbahaya bagi dirinya. Cara ini diyakini dapat membantu anak-anak untuk belajar melampiaskan amarah dengan cara yang tidak merusak. Alhasil, ketika dirinya sudah beranjak besar, anak diharapkan mampu mengendalikan dirinya dengan baik tanpa harus adu mulut dengan orangtuanya.

4. Orangtua Perlu Menahan Diri untuk Berteriak

Ibu perlu ingat kalau anak merupakan cerminan dari kedua orangtuanya. Jika ibu berteriak ketika anak sedang tantrum, maka anak biasanya akan ikut teriak untuk menyamai volume suara ibu. Sebab, hal ini dilakukan anak agar dirinya bisa terlibat dalam komunikasi yang setara dengan orangtuanya.

5. Bantu Anak Melakukan Hal yang Ia Tak Bisa Lakukan

Tantrum dapat disebabkan oleh hal yang sederhana, contohnya ketika seorang anak ingin mengenakan sepatu, tapi gagal. Jika hal ini memang penyebabnya, ibu bisa menanyakan dengan lembut mengapa dirinya marah, dan membantu hal yang tidak dapat ia lakukan sendiri.

Itulah beberapa cara untuk mengatasi anak yang sedang tantrum. Mulai dari mengabaikan anak, mengatasi perilaku agresifnya, hingga membantu anak melakukan hal yang tidak dapat dilakukannya. Jika beberapa cara tersebut sudah dilakukan namun hasilnya nihil, cara terakhir yang dapat ibu lakukan adalah dengan memeluknya erat. Sebab, pelukan diyakini dapat meredakan amarah yang tengah meluap dalam diri si buah hati.




Senin, 10 Oktober 2022

Apa itu Self Harm? Kenali Penyebab Self Harm

 "Self harm merupakan suatu tindakan atau dorongan untuk menyakiti atau melukai diri yang tentunya akan merugikan dirinya sendiri pula"




    Setiap manusia tentu memiliki masalah yang berbeda-beda. Pun mereka juga mengatasinya dengan cara yang berbeda. Ada yang menangani atau mengatasi masalah tersebut dengan melakukan kegiatan dan aktivitas positif. Namun, ada pula yang malah melampiaskan masalah tersebut dengan menyakiti dirinya sendiri atau yang biasa disebut dengan istilah self harm.

    Mengapa bisa demikian? Hal tersebut tentu dilakukannya dengan berbagai sebab. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih dalam mengenai self harm, mulai dari pengertian self harm, jenis-jenis, penyebab.

    Tindakan tersebut biasanya terjadi di usia remaja atau beranjak dewasa. Akan tetapi, orang yang melakukan self harm cenderung menutupi gerak laku tersebut. Hal itu terjadi karena dirinya enggan untuk bercerita atau terbuka pada orang lain yang ada di sekitarnya terkait masalah yang tengah dihadapi.

    Self harm sebagai salah satu langkah dan pengalihan seseorang untuk meluapkan perasaan yang dihadapi, seperti perasaan marah, kesal, stres hingga depresi dan emosi lainnya. Mengapa demikian? Hal itu bertujuan agar dirinya dapat merasa puas, lega, dan tenang karena telah meluapkan rasa emosinya. Namun, perasaan puas, lega, dan tenang itu hanyalah sementara karena setelah ia melakukan self harm, akan timbul perasaan bersalah pada dirinya sendiri.

    Cara yang lazimnya dilakukan untuk self harm atau dengan sengaja menyakiti dirinya sendiri, yakni cutting. Cutting merupakan tindakan memotong, membuat goresan, menyayat atau melukai salah satu bagian tubuhnya dengan benda tajam, seperti pisau, silet, atau potongan kaca. Adapun cara lainnya, seperti memukul-mukul dirinya sendiri, menghantam tangannya ke tembok, dan sebagainya.

    Sebenarnya, perbuatan self harm seperti yang sudah dijelaskan di atas merupakan perbuatan yang bukan dengan sengaja bertujuan untuk bunuh diri. Namun, perbuatan atau tindakan self harm tentunya dapat menyebabkan risiko, seperti luka atau cedera serius, bahkan kematian yang tak disengaja.


Jenis-Jenis Perbuatan Self Harm atau Menyakiti Diri Sendiri


1. Superficial Self Mutilation

Self harm jenis ini merupakan self harm yang terbilang ringan dan wajar, bahkan tidak sedikit yang melakukannya dengan sadar. Namun, tetap saja jenis self harm seperti ini, janganlah diabaikan.

Adapun contoh atau cara self harm sejenis ini, biasanya dengan cara menyayat atau membeset salah satu bagian tubuh menggunakan benda tajam, seperti membeset pergelangan tangan dengan silet atau pecahan kaca. Kemudian, menarik-narik rambutnya dengan kuat, serta melakukan diet ekstra.

Akan tetapi, jenis self harm ini janganlah diabaikan karena apabila dilakukannya terbilang sering, akan berujung pada perbuatan percobaan bunuh diri.

2. Stereotypic Self Mutilation

Self harm jenis ini dapat diartikan sebagai tindakan yang digunakan oleh seseorang untuk mengendalikan atau bisa dikatakan menguasai rasa sakitnya itu secara penuh emosi, serta menghilangkan kehampaan dalam diri yang tujuannya untuk memberikan sensasi pada diri.Self harm sejenis ini tentunya akan melukai diri sendiri, dilakukan dengan kadar frekuensi yang terbilang berulang-ulang atau sering. Contohnya, membenturkan kepala ke tembok secara berkali-kali, kemudian menghantam atau memukul tembok dan meja secara berulang dengan tangannya sendiri.

3. Major Self Mutilation

Self harm jenis ini merupakan yang paling ekstrem jika dibandingkan dengan dua jenis self harm yang sudah dijelaskan sebelumnya. Hal itu karena orang yang melakukan tindakan self harm jenis ini, akan melukai salah satu organ atau bagian tubuhnya yang tentunya akan berakibat cedera permanen dan kerusakan organ tubuh.

Tindakan self harm dengan jenis ini, seperti memotong salah satu jarinya, membakar salah satu bagian tubuhnya, dan sebagainya. Biasanya, self harm jenis ini dilakukan oleh seseorang yang memang memiliki gangguan psikologis cenderung berat. Oleh karena itu, untuk menanganinya pun diperlukan seorang psikolog atau terapis yang memang sudah paham betul terhadap dunia psikologi.

Selain itu, penggunaan obat-obatan zat narkotika dan psikotropika juga dinilai sebagai tindakan self halm. Hal itu karena dilakukan secara berulang-ulang dalam kehidupannya yang nantinya akan mengancam nyawa dirinya sendiri.

Penyebab Seseorang Melakukan Self Harm

Tindakan self harm tak semata-mata dilakukan oleh seseorang dengan tanpa sebab. Tentunya banyak sekali faktor yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindakan self harm. Akan tetapi, kita tak dapat menjabarkan penyebabnya satu persatu secara mendetail. Hal itu karena pastinya setiap orang yang melakukan tindakan self harm memiliki penyebabnya masing-masing.

Namun, secara umum, penyebab seseorang melakukan tindakan self harm dapat dijabarkan sebagai berikut.

1) Sebagai Bentuk Kebencian dan Kekecewaan pada Diri Sendiri

Bagi seseorang yang merasa dirinya rendah hingga memilih untuk membenci dirinya sendiri, cenderung berakibat untuk melukai dirinya sendiri. Contohnya, apabila seseorang yang pernah mengalami kekerasan fisik, atau bahkan pelecehan seksual di masa lalunya, akan berdampak pada rasa percaya dirinya. Ia akan menganggap bahwa dirinya sangatlah rendah.

Oleh karena itu, ia melakukan tindakan self harm sebagai salah satu bentuk pelampiasan atas kebencian pada dirinya sendiri. Tindakan self harm itu juga dilakukan sebagai bentuk kekecewaan dan menyalahkan dirinya sendiri terhadap apa yang telah terjadi di masa lalunya.

2) Bentuk Pelampiasan Emosi

Bentuk pelampiasan seseorang atas rasa emosinya memanglah berbeda. Emosi yang dimaksud, seperti marah, sedih, atau semacamnya. Seseorang yang tidak dapat mengendalikan rasa emosionalnya, cenderung akan melakukan tindakan self harm sebagai bentuk pelampiasan atas emosinya tersebut.

Terlebih bagi beberapa orang, dengan tindakan self harm atau menyakiti dirinya sendiri dilakukannya sebagai bentuk pengganti rasa sakit atau emosi yang tengah ia hadapi. Misalnya, merasakan sedih yang amat sangat karena ditinggal oleh orang tuanya sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri, dan memutuskan untuk menyakiti dirinya sendiri atau self harm.

Mungkin orang-orang yang tidak memahami motif self harm cenderung bertanya, mengapa harus melakukan self harm atau melukai dirinya sendiri? Hal itu dilakukan oleh seseorang karena ketidakpahamannya untuk mengontrol emosinya, tidak pahamnya dalam mengatasi rasa emosi yang ia rasakan, tidak mengerti bagaimana cara mengekspresikan bentuk emosinya tersebut. Hingga akhirnya ia melakukan tindakan self harm sebagai jalan pintas.

Bagi kalian yang sedang berada di masa-masa sulit untuk mengontrol emosi, sulit untuk bersabar, mudah merasakan stres hingga susah menerima kenyataan, tentu buku di atas adalah jawabannya. Buku yang ditulis oleh Aloysius Germia Dinora, akan memberikan solusi seputar permasalahan kehidupan yang sedang kalian alami.

3) Stress hingga Depresi

Seseorang yang memiliki tingkat stres yang epic atau bisa dikatakan tak dapat ditoleransi lagi, mengakibatkan dirinya depresi. Dengan begitu, untuk melepaskan rasa depresinya itu, ia akan melakukan self harm atau menyakiti dirinya sendiri.

4) Lingkungan Sosial yang Tidak Mendukung

Salah satu penyebab seseorang melakukan self harm, bisa jadi karena ia berada di lingkungan yang tidak mendukung. Lingkungan tersebut dapat berupa, lingkungan keluarga, teman, sahabat, kerabat, dan sebagainya.

Sebagai contoh, apabila ada seseorang yang sedang memiliki masalah pribadi, kemudian ia menceritakan masalahnya tersebut entah pada salah satu anggota keluarganya atau temannya, tetapi mereka cenderung mengabaikan dan menganggap masalah tersebut sangatlah sepele. Maka orang yang memiliki masalah tersebut, akan menganggap bahwa dirinya sangatlah tidak penting sehingga untuk ke depannya ketika ia memiliki masalah, ia akan memendamnya sendiri hingga mengalami stres yang berkepanjangan.

Ia merasa bahwa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang memberikan semangat atau dukungan pada dirinya. Tak sampai di situ, ia juga akan melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri sebagai bentuk kekesalan pada dirinya, yakni tindakan self harm.

5) Merasakan Hampa dalam Dirinya

Penyebabnya hampir mirip pada penjelasan di poin sebelumnya, orang yang melakukan tindakan self harm atau melukai dirinya sendiri merupakan seseorang yang sedang merasakan hampa dalam diri atau bahkan hidupnya. Ia memiliki masalah, akan tetapi ia tidak tahu menahu kepada siapa ia akan meluapkan atau bercerita atas masalah yang tengah ia rasakan karena ia takut merasakan adanya penolakan atau pengabaian dari lingkungan sekitarnya.

Kemudian, ia juga merasakan kebingungan atas masalah yang sedang dihadapinya dan bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk melakukan self harm atau menyakiti dirinya sendiri sebagai bentuk kehampaan atas masalah yang sedang ia hadapi.

6) Menderita Gangguan Psikologis

Menderita gangguan psikologis atau gangguan mental, seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder), gangguan makan, depresi, serta gangguan stress pascatrauma (PTSD), memang dapat menjadi salah satu penyebab seseorang melakukan tindakan self ham atau melukai dirinya sendiri. Bahkan, dikatakan lebih rentan untuk melakukan tindakan self harm.

Bagi penderita gangguan psikologis tingkat berat, cenderung akan melakukan tindakan self harm dengan jenis yang ekstrem pula (seperti pada penjelasan jenis-jenis self harm poin ketiga). Oleh karena itu, untuk mengatasinya pun diperlukan orang khusus yang memang sudah paham akan ilmunya, seperti psikolog atau terapis.




Selasa, 01 Februari 2022

PENTINGNYA DIGITALISASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Ketika pandemi Covid-19 muncul dipermukaan, dunia pendidikan Indonesia dipaksa untuk beradaptasi. Pandemi seakan membuka mata bahwa masih ada jarak lebar antar masyarakat Indonesia dalam memperoleh pendidikan. Mulai dari kesenjangan fasilitas pendidikan hingga keterampilan sumber daya manusia yang berbeda. Sebut saja para siswa yang berada di wilayah terpencil atau perbatasan negara yang kesulitan mendapatkan akses jaringan telekomunikasi untuk belajar jarak jauh. Jangankan mendengar kata jaringan, teknologi saja mungking asing ditelinga mereka.

Demokrasi dalam konteks pendidikan berarti kesempatan yang sama bagi semua orang memperoleh pendidikan. Oleh karena itu, digitalisasi di dunia pendidikan diyakini bakal mendorong proses transformasi pendidikan. Transformasi tersebut bahkan dapat mengubah sistem pendidikan secara menyeluruh. Guru dan siswa tak lagi perlu bertatap muka, bahkan sumber ilmu tak lagi melulu bersumber pada guru.  Hal ini juga memaksakan guru sebagai pendidik harus dapat menguasai perkembangan teknolog yang ada, sehingga guru dapat memberikan pendidikan secara online dengan menggunakan media pembelajaran yang variatifagar murid tidak merasa bosan menjalani pendidikan secara online.

Dalam prosesnya pasti ada gejolak karena sesuatu yang baru, namun gejolak yang muncul dari digitalisasi pendidikan merupakan hal yang normal. Dalam konteks pandemi Covid-19, misalnya, digitalisasi menjadi jembatan untuk menggerakkan roda pendidikan. Hingga saat ini, hampir seluruh sekolah di Indonesia mengandalkan jaringan internet dalam proses belajar-mengajar. 

Hal ini membuat orangtua harus semakin waspada terhadap penggunaan gadget anak di rumah. karena dengan adanya pendidikan online anak pasti akan lebih sering berada dan memegang gadget/laptop. Orang tua harus lebihs sering mengecek kegiatan anak karena semua kegiatan keseharian berada di dalam laptop/gadget yang dimiliki oleh anak.

Seluruh pihak di dunia pendidikan harus mempersiapkan diri, beradaptasi sebaik mungkin dengan proses digitalisasi yang masif terjadi agar proses transformasi yang terjadi dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara merata.




.

Kamis, 28 Januari 2021

KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)

Setiap anak yang lahir didunia memiliki potensi yang berbeda-beda, mereka akan memiliki kecerdasan dan bakat yang berbeda antara anak satu dan anak lainnya, sudah seharusnya sebagai orangtua atau masyarakat tidak menyamaratakan dan menbanding-bandingkan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Sebaliknya kita sebagai orangtua harus mengerti kekurangan, keterbatasan, dan keistimewaan anak sejak dini baik dari segi fisik maupun psikis. Keterbatasan pada anak tersebut menyebabkan orangtua kurang mengerti dengan potensi yang dimiliki anak, hampir semua orangtua menginginkan anaknya sempurna baik dari segi fisik, psikis, dan akademiknya.

Sampai saat ini, masih banyak orangtua yang merasa malu apabila anak mereka memiliki keterbatasan-keterbatsan baik fisik, psikis maupun akademik, sehingga orang tua berusaha dan menjaga agar anaknya tidak berinteraksi dengan anak lain ataupun masyarakat. Disamping itu banyak juga masyarakat yang anaknya normal akan tetapi melarang anak mereka untuk bergaul dan berinteraksi dengan anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis ataupun akademik. Masyarakat umum yang belum mengerti menganggap bahwa jika anak mereka berinteraksi dengan anak yang mempunyai keterbatasan fisik, psikis maupun akademik maka anak mereka akan ikut tertular, itu adalah pandangan yang kurang tepat,sikap orang tua yang demikian itu akan membuat keadaan semakin parah dan menyebabkan potensi yang dimiliki anak tidak berkembang secara optimal.

Hal ini membuat ruang lingkup pergaulan anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis maupun akademik semakin sempit dan terbatas, anak yang memiliki keterbatasan akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat, akan dianggap tidak mempunyai kemampuan, kecerdasan dan potensi lemah atau pendapat lainnya, anak akan semakin dang kurang memiliki masa depan yang cerah, lebih parah lagi anak akan dianggap sebagai anak yang hanya bisa merepotkana depanya.
Berikut ini adalah penjelasan dari pengelompokan anak berkebutuhan khusus.

1. Tunanetra

Dimata masyarakat umum, tunanetra atau yang lebih dikenal dengan buta adalah seseorang yang tidak bisa melihat atau seseorang yang telah kehilangan fungsi penglihatannya, padahal pengertian tunanetra tidak sesempit itu, karena anak yang hanya mampu melihat dengan keterbatasan (low vision) juga disebut tunanetra, Seperti yang didefinisikan oleh Somantri (1996:54)anak tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan penglihatan, baik sebagian atau menyeluruh yang menyebabkan proses penerimaan informasi kurang optimal.
Gangguan penglihatan atau kebutaan karena kerusakan/kelainan pada mata seseorang, menyebabkan kemampuan indera penglihatan seseorang tidak dapat berfungsi dengan baik atau bahkan tidak dapat berfungsi sama sekali. Penyebab kerusakan/kelainan itu bisa terjadi saat di dalam kandungan dan bisa juga terjadi setelah lahir. Karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam hal penglihatan, maka dalam proses pembelajarannya lebih menekankan pada alat indera yang lain yaitu indera perabaan dan pendengaran.
Karakteristik anak tunanetra menurut Somantri (2012: 66), yaitu:Dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas/normal dapat dibaca pada jarak 21 meter yang diukur dengan tessnellen card.Berdasarkan acuan tersebut, anak tunanetra dikelompokan menjadi 2 macam, yaitu:
     
1. Buta jika anak tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar (visusnya = 0).
2. Low vision jika anak masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika anak hanya mampu membacaheadline pada surat kabar.

Indra penglihatan memiliki peran yang sangat penting dalam penerimaan informasi dan pengalaman, seseorang yang mengalami gangguan penglihatan baik sebagian ataupun menyeluruh sama-sama mengalami hambatan dan keterbatasan dalam pengalaman, kemampuan bergerak dalam lingkungan serta interaksi dalam lingkungan.

2. Tunarungu

Istilah tunarungu berasal dari kata “tuna” dan “rungu”, tuna artinya rusak atau cacat dan rungu artinya pendengaran, seseorang dapat dikatakan tunarungu apabila ia memiliki kerusakan/kelainan pada organ pendengarannya yang menyebabkan ia tidak dapat mendengar atau kurang mampu mendengar suara yang seharusnya mampu didengar orang normal.

“Tunarungu berarti kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan seluruh alat pendengaran yang mengakibatkan hambatan dalam perkembangan bahasa sehingga memerlukan bimbingan dan pelayanan khusus”. ( Salim,1984 : 8) Dikalangan masyarakat umum, tunarungu lebih dikenal dengan kata tuli, yaitu seseorang yang tidak mampu mendengar atau memiliki kerusakan pada organ dengarnya. Namun istilah tuli dimasyarakat  kadang lebih sering menuju kearah mengejek atau mencaci.

Tunarungu bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari dalam kandungan ataupun benturan keras yang menyebabkan kerusakan pada organ pendengaran. Klasifikasi lain dikemukakanolehStreng yang dikutipSomaddanHernawati( 1997 : 28-31 ) sebagaiberikut:
Mild Loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 20-30 dB yang  memiliki ciri- ciri :

1.Sukar mendengar percakapan yang lemah
2.Menuntut sedikit perhatian khusus dari sistem sekolah tentang kesulitan
3.Perlu latihan membaca ujaran dan perlu diperhatikan perkembangan penguasaan perbendaharaan kata.

Marginal Loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 30-40 dB yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Mengerti percakapan biasa pada jarak satu meter.
2. Mereka sulit menangkap percakapan dengan pendengaran padajarak normal dan kadang-kadang mereka mendapat kesulitan dan menangkap percakapan kelompok.
3. Mereka akan sedikit mengalami kelainan bicara dan perbendaharaan kata yang terbatas.
4. Kebutuhan dalam program pendidikan antara lain belajar membaca, penggunaan alat bantu dengar, latihan bicara, latihan artikulasi dan perhatian dalam perkembangan perbendaharaan kata.

Moderat loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 40-60 dB yang   memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

        1. Mereka mengerti percakapan keras pada jarak satu meter.
        2. Perbendaharaan kata terbatas

yaitu kehilangan kemampuan mendengar 60-70 dB. Memiliki ciri-ciri :

Mereka masih biasa mendengar suara keras dari jarak yang dekat misalnya klakson mobil dan lolongan anjing. Mereka diajar dalam suatu kelas khusus untu kanak-anak tunarungu. Diperlukan latihan membaca ujaran dan pelajaran yang dapat mengembangkan bahasa dan bicaradari guru kelas khusus.

Profound loses, yaitu kehilangan kemampuan mendengar 75 dB keatas. Memiliki ciri :
Mendengar suara yang keras pada jarak 1 inci (2,24 cm) atau sama sekali tidak mendengar walaupun menggunakan alat bantu dengar.

3. Tunagrahita

Sebagian besar masyarakat menganggap anak-anak tunagrahita adalah anak yang bodoh, lemot, lelet, idiot dan lain sebagainya. Anggapan itu membuat anak tunagrahita dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Anggapan itu juga membuat masyarakat menjauhi serta mengucilkan anak tunagrahita. Padahal anggapan yang beredar luas dimasyarakat adalah anggapan yang tidak tepat, darisudut bahasa atau istilah tunagrahita berasal dari kata “tuna” dan “grahita” tuna artinya rusak atau cacat dan grahita artinya berfikir. Definisi yang diterima secara luas dan menjadi rujukan utama ialah definisi yang dirumuskan oleh Grossman yang secara resmi digunakan AAMD (American Association of Mental Deficiency) yaitu ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum yang secara nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata (normal) bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian diri dan semua ini berlangsung pada masa perkembangan. Tunagrahita adalah seseorang yang mengalami hambatan fungsi kecerdasan intelektual dan adaptasi tingkah laku yang terjadi pada masa perkembangannya dan juga menyebabkan kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial.

Klasifikasi anak tunagrahita menurut AAMD (American Assosiation on Mental Deficiency) dan PP No. 72 tahun 1991 dalam Amin (1995:22-24) klasifikasi anak tunagrahita terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut :

    1) Tunagrahita ringan

Mereka yang termasuk dalam kelompok ini meskipun kecerdasannya dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.
Tunagrahita sedang

Anak tunagrahita sedang memiliki kemampuan intelektual umum dan adaptasi perilaku di bawah tunagrahita ringan. Mereka dapat belajar keterampilan sekolah untuk tujuan-tujuan fungsional, mencapai suatu tingkat “tanggung jawab sosial” dan mencapai penyesuaian sebagai pekerja dengan bantuan.

    2) Tunagrahita berat dan sangat berat

Anak yang tergolong dalam kelompok ini pada umumnya hampir tidak memiliki kemampuan untuk di latih mengurus diri sendiri melakukan sosialisasi dan bekerja. Di antara mereka (sampai batas tertentu) ada yang dapat mengurus diri sendiri dan dapat berkomunikasi secara sederhana serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya yang sangat terbatas.

4. Down Sindrom

Down Sindrom adalah gangguan genetika paling umum yang menyebabkan perbedaan kemampuan belajar dan ciri-ciri fisik tertentu yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom.Down Sindrom disebut juga penyakit genetik karena gangguan kromosom dengan ciri khas wajah universal (wajah mongoloid). Dimasyarakat sendiri, Down Sindrom lebih dikenal dengan anak seribu wajah, bukan karena wajah anak down sindrom ada seribu, melainkan karena ada banyak anak down sindrom dan wajah anak-anak down sindrom itu sama, down sindrom tidak bisa disembuhkan, namun dengan dukungan, perhatian dan kasih sayang, anak-anak dengan down sindrom bisa tumbuh dengan maksimal.

Anak-anak dengan down sindrom sangat membutuhkan bimbingan jauh melebihi anak normal lainnya. Perkembangan mereka dalam berbagai aspek memerlukan waktu, dan mereka akan menjalaninya bertahap, sesuai dengan kemampuan mereka.

5. Tunadaksa

Ketika kita bergaul dengan teman atau masyarakat sekitar sesekali kita akan bertemu dengan orang yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna, seperti berjalan menggunakan bantuan kursi roda karena tidak memiliki kaki ataupun memiliki kaki yang tidak mampu menopang berat tubuhnya, tidak dapat memegang gelas karena bentuk tangan yang tidak normal dan lain sebagainya. Seseorang yang seperti itu disebut dengan tunadaksa.

Istilah tunadaksa berasal dari kata “tuna” dan “daksa”, tuna yang berarti rusak atau cacat dan “daksa” yang berarti tubuh. Menurut Sutjihati Somantri tunadaksa adalah suatu keadaan yang terganggu atau rusak sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada otot, sendi dan tulang dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kecelakaan, penyakit atau juga bisa disebabkan karena pembawaan sejak lahir.

Dimasyarakat sendiri istilah tunadaksa masih belum terlalu familiar, masyarakat menyebut tunadaksa dengan kata cacat atau cacat tubuh. Padahal kata cacat adalah kata yang kurang baik untuk di ucapkan, apalagi untuk anak berkebutuhan khusus.Tunadaksa yang dialami seseorang dapat terjadi karena bawaan dari lahir ataupun disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan.

    1) Kelainan pada sistem serebral (cerebral system disorders)

Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelompok kelainan sistem serebral didasarkan pada letak penyebab kelainan yang terletak di dalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syaraf pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial, karena otak dan sumsum tulang belakang merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup manusia. Didalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah cerebral palsy.

    2) Kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system)

Sistem otot dan rangka adalah bagian-bagian atau jaringan-jaringan yang membentuk gugusan otot dan rangka sehingga terjadi koordinasi yang normal dan fungsional dalam menjalankan tugasnya.antara lain meliputi:

        a). Poliomyelitis
        b). Muscle dystrophy
        c). Spina Bifida

    3) Kelainan tunadaksa karena bawaan (congenital deformities)

Kelainan tunadaksa atau cacat ortopedi dapat terjadi karena faktor bawaan yang disebabkan oleh faktor endogeen (gen) dari ayah, ibu, dari kedua-duanya, sehingga sel-sel pertama yang tumbuh menjadi bayi telah mengalami cacat, Kelainan ini terjadi karena faktor exogen, yaitu pada awal-awal pertumbuhan sel

6. Tunalaras

Saat di sekolah, kita pasti melihat anak yang sering melakukan pelanggaran, baik melanggar peraturan sekolah, peraturan kelas, peraturan guru dan lain sebagainya. Anak-anak yang melakukan pelanggaran dan sering dihukum oleh guru akan di cap nakal oleh teman-temannya. Anak-anak tersebut bisa disebut dengan tunalaras.

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
Berkesulitan Belajar/lamban belajar

Seseorang dapat dikatakan berkesulitan belajar atau lamban belajar jika ia memiliki IQ normal namun jika dibandingkan dengan teman sebaya ia mengalami keterlambatan dalam proses pemahaman belajarnya.

7. Autis

Autis adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks yang gejalanya sudah terlihat sebelum anak berusia tiga tahun. Seseorang yang mengalami autisme memiliki gangguan dan masalah dalam berinteraksi dengan orang lain, kadang anak autisme terlihat sangat linglung, terkucil, terasing, tidak mau melakukan kontak mata dengan orang lain, tidak mau bermain bersama teman-temannya, sering mengulang gerakan-gerakan secara terus menerus dan berlebihan. Akibat gangguan ini seseorang yang mengidap gangguan autis sulit unutk belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya dan menyebabkan seolah-olah ia hidup dalam dunianya sendiri.

Menurut Yatim (2002) dalam YAI, anak autis dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
Autisme persepsi: dianggap autisme yang asli kerana kelainan sudah timbul sebelum lahir. Ketidak mampuan anak berbahasa termasuk pada penyimpangan reaksi terhadap rangsangan dari luar, begitu juga kemampuan anak bekerjasama dengan orang lain, sehinggaanak bersikap masa bodaoh.

Autisme reaksi: terjadi karena beberapa permasalahan yang di menimbulkan kecemasan seperti orang tua meninggal, sakit berat, pindah rumah/sekolah dan sebagainya. Autisme ini akan memuncukan gerakan-gerakan tertentu berulang – ulang, kadang-kadang disertai kejang-kejang. Gejala ini muncul pada usia lebih besar enam sampai tujuh tahun sebelum anak memasuki tahapan berfikir logis.

Autisme yang timbul kemudian: terjadi setelah anak agak besar, dikarenakan kelainan jaringan otak yang terjadi setelah anak lahir. Hal ini akan mempersulit dalam hal pemberian pelatihan dan pelayanan pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat.
 


Daftar Pustaka
Somantri, T. S. (1996). Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Somantri, Sutjihati. (2012). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT Refika Aditama.
Salim (1984). Pendidikan Anak Tuna rungu. Bandung : Alfabeta.
Somad dan Hernawati (1997). Ortopedagogik anak tuna rungu. Jakarta : DEPDIKNAS

PERANAN ORANG TUA BAGI REMAJA

      Orang tua adalah peran yang snagat pentig bagi keluarga, terutama bagi anak-anak. Menjadi orang tua itu tidaklah mudah karena sebagai ...